Selamat datang di Blog Karya Islami

Yaa Allah, Guide me all the way to Your Jannah...

Sabtu, 12 November 2011

Tatkala Lisan Kehilangan Kekangnya

                
               Salah satu fenomena yang –menurut saya- miris pada zaman sekarang adalah, makin hilangnya pengekangan kita terhadap lisan kita. Coba kita perhatikan sejenak. Segala macam bentuk dosa lisan kerap kali kita lakukan. Entah itu ghibah, fitnah, perkataan kasar, perkataan jorok, perkataan kotor dan hina, sampai keluhan-keluhan tak jelas. Masya Allah. Menghitung dosa lisan dalam sehari saja mungkin kita sudah kewalahan, apalagi ketika dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di Yaumil Akhir nanti? Astaghfirullah… rasanya miris sekali bila mengenang segala ucapan berdosa tersebut.
                Menjaga lisan, adalah sebuah amal ibadah, yang memiliki ganjaran yang amat besar. Simaklah hadits Rasulullah SAW ini: “Artinya : Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”. Lihatlah, perhatikanlah, renungkanlah. Menjaga apa yang ada di antara dua janggutnya berarti lisan kita ini. Apa balasan dari menjaga lisan? Jaminan surga! Subhanallah, lihatlah saudaraku, masihkah kita ingin mengumbar perkataan buruk dari lisan kita? Masihkah kita ingin menghina saudara seiman kita? Masihkah kita ingin mengejek, ngatain saudara Muslim kita? Jikalau masih ingin, mudah-mudahan hadits ini dapat memupus keinginan kita tersebut:”Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”
                Sebenarnya, ada sebuah alasan menarik di sini, mengapa lisan ini menjadi begitu penting untuk dijaga. Kita tahu, lisan akan melahirkan sesuatu bernama ‘kata’. Kumpulan kata demi kata yang diucapkan akan membentuk sebuah kalimat (hehe, semua juga udah tau kali ya?). Ya, kita semua tahu itu. Sebuah kata, memiliki kekuatan untuk mempengaruhi, baik itu menjatuhkan, ataupun menggugah semangat. Kita bisa lihat pada diri Rasulullah. Tatkala terlontar sebuah kata, ataupun kalimat kebaikan, maka serta-merta pendengarnya akan tersentuh. Kata-kata beliau singkat, namun memiliki makna yang mendalam. Kalimatnya penuh dengan kearifan, pengetahuan, dan kebijaksanaan spiritual. Kita juga dapat menilik kehebatan sebuah kata pada zaman sekarang. Lihatlah, sebuah kabar dari mulut ke mulut dapat menghancurkan reputasi para public figure negara ini.
                Allah Berfirman: “…Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat…”(QS. Al-Baqarah: 83). Perintah bertutur kata yang baik ini bahkan disandingkan dengan perintah mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Berarti, sebegitu pentingnya menjaga lisan ini. Sedangkan pada era globalisasi ini, dapat kita lihat, ghibah menjadi program yang digemari. Ejekan dan caci maki menjadi komoditi utama dalam acara-acara lawakan (walaupun mungkin hanya bermaksud untuk bercanda, tetap saja hal ini dibenci oleh agama). Kata-kata hina seperti (maaf), a**ing, b****at, b*bi, t*i, g**a, g***ok, b*g*, ng****t, dll (saking banyaknya sampe cape buat nulisin, -_-) menjadi perkataan lumrah bagi masyarakat kita. Padahal, semua ucapan kita akan dicatat oleh malaikat (silakan cek QS. Qaaf: 18).
                Maka, inilah pengaruh akibat kata-kata buruk tadi. Seperti dibilang di atas, ‘kata’, memiliki kekuatan tersendiri yang hebat. Akibat perkataan buruk tadi, maka lihatlah moral pemuda kita, lihatlah akhlak masyarakat kita. Begitu banyak yang berakhlak buruk –secara halus saya katakan demikian-. Tak salah bila kita menilik bangsa-bangsa besar barang sebentar. Kita lihat Yunani kuno, berjaya karena banyak melahirkan kata-kata hikmah. Begitu juga China dan Jepang. Banyak sekali terlontar kata-kata motivasi, penyemangat. Islam, agama kita, memiliki Rasulullah, sebagai sosok yang hemat dalam berbicara, namun setiap kata yang terlontar, dihafal dan dicatat oleh banyak orang, karena mengandung hikmah yang mendalam. Pada masa kejayaan Islam, ulama-ulama kita sangat menjaga adab dalam berkata ini. Mereka juga banyak menelurkan kata-kata motivasi dan hikmah. Orang-orang sukses dan besar, selalu memiliki kata-kata motivasi dan hikmah.
                Inilah yang perlu kita benahi Saudaraku. Orang yang berakal adalah orang yang lisannya berada di belakang hatinya. Tiap kali ia ingin berkata, ia selalu bertanya pada hatinya,”Bermanfaatkah kata yang kuucapkan ini?”
                Saudaraku, kata-kata yang bermakna sekalipun, bisa menjadi tak berarti bila tak dibarengi dengan tindakan nyata. Apalagi kata-kata rendahan dan tidak bermakna, bahkan kotor dan hina? Kata-kata saja memang tak cukup untuk membangun kembali kejayaan Islam. Perlu tindakan yang real. Namun, ‘kata’ dapat memantik kembali semangat yang padam, menggerakkan semangat untuk berjuang, dan menjatuhkan mental musuh-musuh Islam. Mari kita benahi kata-kata kita. Mari kita jaga lisan kita. Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat :)

Jumat, 02 September 2011

Bangkitlah, Pemuda Islam!

               
               Pemuda. Sebuah fase dalam perjalanan hidup manusia. Fase di mana pribadi seorang manusia sedang mencari jati diri, mencari sebuah arti kehidupan. Sebab itulah, seorang manusia pada fase ini, akan tumbuh segenap potensi dirinya. Pola pikir, kreativitas, mental, kedewasaan, kebijaksanaan akan tumbuh pesat saat memasuki fase ini. Tentu dengan ciri-ciri seperti di atas, pemuda merupakan fase paling potensial untuk melebarkan sayap dakwah Islamiyah. –Seharusnya- paling bersemangat meninggikan kalimat-kalimat Allah. Juga paling berpeluang untuk mengibarkan panji Islam. Dengan segudang kemampuan dan keterampilan, pemuda memang pantas ditempatkan dalam barisan depan dalam mengembangkan dakwah ini.
                Namun, sayang beribu sayang, kenyataan yang terjadi tidaklah semanis itu. Realita yang tersaji di depan mata tidak mencerminkan demikian. Pemuda Islam masa kini, telah loyo, termakan propaganda-propaganda yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Amunisi mereka, seolah benar-benar telak mengenai pemuda Islam masa kini. Lagu-lagu cengeng yang berlabel ‘romantisme’ sudah menggantikan ketinggian Al-Qur’an. Film-film perusak moral bagaikan jamur beracun yang tersebar. Perilaku-perilaku amoral oleh pemuda Islam seakan sudah menjadi penghias layar kaca dan media cetak sehari-hari. Pemuda Islam masa kini, pun sudah dijejali berbagai macam pemikiran-pemikiran apatis terhadap Islam, agamanya sendiri! Dan, senjata mereka yang paling ampuh, Virus Merah Jambu, seakan sudah mengalir dalam denyut keseharian mereka, pemuda Islam masa kini.
                 Jika kita menapaktilasi sejarah para sahabat Rasulullah, mungkin kita akan tertegun. Kita mengenal Usamah ibn Zaid, seorang panglima perang termuda. Bayangkan, di usianya yang belum menginjak 20 tahun, sudah diamanahkan oleh Rasulullah, untuk menjadi panglima perang dalam sebuah ekspedisi militer melawan tentara Romawi di Syiria. Semuda itukah? Ya, begitulah tinta emas sejarah menulis.
                Ada juga Ali ibn Abi Thalib. Di usia 20 tahunan, dengan berani ia menempati tempat tidur Rasulullah, untuk menggantikan beliau yang saat itu hendak dibunuh oleh kaum Quraisy ketika ingin hijrah ke Yatsrib. Tinta emas sejarah juga menorehkan nama Abdullah ibn Abbas. Seorang pakar ilmu yang luar biasa.
                Ada pula sederet nama lainnya, seperti Mu’adz ibn Jabal, Salamah ibn Al-Akwa’, Samurah ibn Jundab, Anas ibn Malik, Abdullah ibn Umar, Zaid ibn Tsabit, Rafi’ ibn Khudaij, Abu Sa’id Al-Khudri, dan masih banyak lagi. Pemuda Islam kader Rasulullah itu tercatat oleh tinta emas sejarah. Keharuman namanya sudah tak dapat dipungkiri lagi. Semangat juang, kejernihan hati, kemurnian iman, kearifan pemikiran, serta kesempurnaan akhlak mereka, seharusnya menjadi panutan bagi kita, pemuda Islam masa kini.
                Walaupun, harus kita akui, mereka dapat menjadi hebat seperti itu, karena mereka dibimbing langsung oleh Rasulullah. Mereka menyerap ilmu, mencecap manisnya keimanan, langusng dari Rasulullah. Rasulullah benar-benar menjadi teladan bagi mereka.
               
                Sayangnya, zaman inipun, kebangkitan pemuda Islam juga terhambat oleh minimnya para tokoh Islam yang dapat dijadikan teladan sejati. Mereka –pemuda Islam masa kini- terlalu banyak dijejali teladan-teladan yang buruk akhlaknya. Sehingga, mereka menjadi liar, tergila-gila oleh teladan buruk yang diidolakannya itu. Akhirnya, tak heran jika pemuda Islam masa kini semakin jauh dari Islam. Terbawa arus yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.
                Pada akhirnya, memang harus diadakan perbaikan dari kedua belah pihak. Dari pihak senior, berikanlah contoh yang baik kepada para pemuda. Jadilah teladan, meski memang tak bisa seperti Rasulullah, minimal mendekati lah. Dari pihak pemuda, juga harus memperbaiki diri. Bekali diri dengan pemahaman Islam yang benar, lalu cerminkan karakter Islami dalam kehidupan sehari-hari. Hendaknya berhati-hati dalam memilih idola, juga cermati terlebih dahulu pemikiran-pemikiran yang bersliweran dalam media cetak maupun elektronik.
                Memang, perjuangan kebangkitan kita, pemuda Islam, pastilah menemui banyak aral melintang. Godaan-godaan syahwatpun takkan berhenti menggempur dan menggoyahkan keistiqomahan kita meniti jalan kebenaran. Oleh karena itu, berdoa kepada Allah menjadi senjata utama kita memerangi syahwat-syahwat itu.
                Semoga bermanfaat… J

Sabtu, 27 Agustus 2011

Pesankan Saya Tempat Di Neraka!

Sebuah kisah yang membuat diri ini merinding... Begini kisahnya:

Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat.
Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya…
 
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.
 
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus.
Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat.
Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang.
 
"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!!
Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun.
Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada didekat pintu keluar. "Bangunkan saja!" begitu kira-kira permintaan para penumpang. Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk disampingnya.
 
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan. Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya…. Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat… Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…
 
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah… Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya. Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin dekat. Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar… Mumpung kesempatan itu masih ada.
 

Senin, 22 Agustus 2011

Dalam Hati Yang Terdalam


Dalam hati ada "KEKUSUTAN" yang tidak akan terurai kecuali dengan menghadap kepada-Nya.
Dalam hati ada "KEBUASAN" yang tidak akan terjinakkan kecuali dengan mengingat kebesaran-Nya.
Dalam hati ada "KESEDIHAN" yang tidak akan hilang kecuali dengan kegembiraan mengingat karunia-Nya.
Dalam hati juga ada "KERISAUAN" yang tidak akan hilang kecuali dengan perasaan damai bersama-Na dan kembali kepada-Nya.
Dalam hati ada "API YANG BERGEJOLAK" yang tak akan padam kecuali dengan keridhoan akan perintah dan larangan-Nya serta menjalani ketentuan-Nya dengan kesabaran hingga pertemuan dengan-Nya.
Dalam hati juga ada "KEINGINAN" yang tidak akan pernah terpuaskan walaupun diberikan dunia dan seisi-Nya kecuali dengan cinta, kepasrahan dan mengingat-Nya terus-menerus seiring hembusan nafas kita.
                                                            ( Ibnul Qayyim Al-Jauziyah )  

Selasa, 02 Agustus 2011

Sebuah Pemberian

            
             Hari pertama masuk sekolah. Setelah 2 minggu menjalani liburan pergantian semester. Seperti biasa, pukul 04.45, bertepatan dengan berkumandangnya adzan Subuh, aku terbangun dari tidur lelapku. "Alhamdulillahilladzii ahyanaa ba'da amaa amaatanaa wa ilaihin nusyuur", ucapku sambil mengusap-ngusap mata. "Selamat datang hari yang penuh semangat...!" Aku bergegas bangkit dan keluar dari kamar, untuk mengambil air wudhu. Tetesan-tetesan bening air itu menyegarkan kembali badan ini setelah dilanda keletihan kemarin. Cucuran air itu juga -Subhanallah- mengeluarkan dosa-dosa dari bagian tubuh yang kubasuh. Luar biasa.
            Abi rupanya sudah menungguku di depan pintu, dengan mengenakan peci dan sarung. "Ayo Fatin, ke masjid bareng." Aku pun menyambar peciku dan menyusul Abi yang sudah berdiri di ambang pintu.
            "Subhanallah, udaranya segar sekali pagi ini ya Tin"
            "Iya Bi, segar sekali"
            "Tin, gimana, sudah siap menghadapi semester dua di kelas 2 SMA?", tanya Abi sambil nyengir.
            "Insya Allah siap Bi, hehe"
            "Nggak terasa nak, kamu sudah sedewasa ini. Perasaan baru kemarin Abi gendong-gendong kamu deh, hehehe", candanya.
            "Hehe, iya Bi, aku juga nggak ngerasa. Aah… Akhirnya, bisa kembali ke lingkungan Rohis yang Islami setelah 2 tahun ngga gabung.”
            “Bersyukurlah Nak, kamu akhirnya tersadarkan oleh teman seperjuanganmu dulu.”
            “Iya Bi, Alhamdulillah.”
            Tiba-tiba, suara iqomah sudah terlantun. Kamipun mempercepat langkah kaki agar segera sampai di masjid.
****
            Oya, perkenalkan, namaku Fatin. Nama lengkap Abdullah Fatin. Artinya, hamba Allah yang cerdas. Nama yang cukup simple bukan? Alhamdulillah, doa kedua orangtuaku ini terkabul. Aku benar-benar menjadi hamba-Nya yang cerdas, hehe. Aku terdaftar sebagai seorang siswa di sebuah SMA Negeri unggulan di daerah ibukota. Kelas 2 SMA. Aku anak sulung dari 4 bersaudara. Aku hobi membaca buku, mendengar nasyid, dan bermain game. Oke, inilah perkenalan singkatku. Maaf jika memotong di tengah-tengah cerita hehe  (penulisnya sih iseng banget, perkenalan diri kok bukan di awal gitu lho). Oke, kembali ke cerita…
****
            6 bulan yang lalu…
Ruang 4.03. Ah, melelahkan sekali. Baru hari pertama masuk kembali, sudah dapat kelas di lantai 4. Benar-benar sebuah perjuangan. Begitu masuk kelas, aku langsung duduk di salah satu kursi di barisan depan. Memang, aku suka duduk di barisan depan. Sebab, aku merasa lebih nyaman mendengarkan penyampaian guru ketimbang duduk di barisan tengah, apalagi belakang.
            “Tin, duduk di sebelah gue yuk”, ajak Taufik, teman sekelasku ketika kelas 10 dulu.
            “Oke, tapi lu yang pindah ke sini ya, gue ngga mau duduk di barisan belakang”
            “Oke, siiplah Tin. Apa kata lu dah”, ujarnya mengiyakan.
            Bel masuk berbunyi. Sudah menjadi program di sekolahku, setelah bel berdering, selama 15 menit, digunakan untuk membaca ayat suci Al-Qur’an. Seperti biasa, pagi itu juga salah satu anak Rohis melantunkan ayat suci Al-Qur’an melalui mikrofon yang terhubung ke semua speaker yang terpasang di masing-masing kelas.
            Namun, sayangnya tak banyak yang mengikuti program tersebut. Bagaimana tidak? Sangat jarang ada guru yang mengawasi para siswa di kelas ketika dilantunkan ayat Al-Qur’an. Termasuk aku. Meskipun aku sudah siap sedia dari rumah membawa Al-Qur’an, tetap saja, aku tergoda untuk mengobrol dengan teman-teman.
            Tetapi, sepertinya berbeda dengan pagi ini. Suara sang pelantun begitu merdu dan… begitu akrab di telingaku. Siapa dia? Ah, suara ini membuatku ingin sekali mengikutinya membaca Al-Qur’an. Kuambil mushaf kecilku dari tasku, lalu kubaca satu per satu ayat yang dibaca hari ini. Sudah sampai Surah Al-Hadiid rupanya. Wajarlah, karena kegiatan ini sudah dimulai sejak 1,5-2 tahun yang lalu. Aku merasa tenteram membaca ayat-ayat ini, ditambah dengan suara merdu sang pelantun. Subhanallah…
            Tiba-tiba, ketika sampai di pertengahan, hatiku bergejolak hebat. Aku merasa seperti ditimpakan kesenduan yang sangat. Alunan sang qori’ yang begitu syahdu menambah kegalauan di hatiku. Aduhai… seandainya aku tahu makna di balik ayat ini, aku dapat mengetahui sebab kesenduanku ini. Sungguh, ingin tumpah rasanya air mata ini, namun, apa boleh buat. Aku sedang berada di kelas, dan guru baru saja masuk ke kelas. Jadi, aku harus menahannya.
****
            Bel istirahat berdering. Saat ingin keluar kelas, tiba-tiba Taufik memanggilku untuk kembali ke kursi.
            “Kenape Fik?”
            “Gue bingung sama elu Tin. Lu kan termasuk alim lah, tapi kok lu ga mau masuk Rohis?”, tanyanya secara terang-terangan. Pertanyaan seperti ini sudah beberapa kali dilontarkan olehnya. Aku maklum. Karena, dia termasuk salah satu aktivis Rohis di sekolah. Dan kurasa, ia ingin sekali aku masuk Rohis.
            “Kan gue udah berkali-kali bilang, gue males masuk Rohis.”
            “Kenapa lu males? Kan di situ kita bisa belajar banyak hal. Bisa belajar tentang organisasi, memperkuat ukhuwwah, menyirami hati yang tandus, membentuk karakter Islami...”
            “Ah, apa kata lu dah.”, selorohku sambil meninggalkan dirinya yang terbengong-bengong mendengar jawabanku. Tapi, kulihat dia segera beranjak dari tempat duduknya. Aku yakin dia akan menuju masjid. Melaksanakan sholat Dhuha. Sama sepertiku.
            Setelah melaksanakan sholat Dhuha, aku pun hendak kembali ke kelas. Namun, seseorang merebut perhatianku. “Dia… tidak mungkin!”, batinku. Orang yang kupandangi juga melirikku. Lalu, dengan wajah berhiaskan senyum berbinar, ia menghampiriku.
            “Assalamu’alaikum akh Fatin, bagaimana kabar antum?”, sapanya sambil mengulurkan tangan.
            “Wa… Wa’alaikumussalam akh Said… Alhamdulillah… kabar ana baik”, jawabku sedikit tergagap. “Antum sendiri gimana kabarnya? Terus, antum kok tiba-tiba ada di sini?”
            Dia tersenyum. “Alhamdulillah ana luar biasa baik akh. Haha, antum nanyanya gitu banget. Ana pindah ke sini akh. Soalnya, di sini kabarnya lingkungan Rohisnya bagus, jadi ana minta dipindahkan ke sini.”, jawabnya, masih dengan senyumnya yang berbinar. Aku hanya menanggapi dengan senyuman kecut.
            “Oya, antum kok susah banget diajak reunian Rohis SMP kita? Padahal, kita bisa sharing tentang pengalaman-pengalaman kita masing-masing di SMA lho.”
            “Ah, antum  kaya’ ga ngerti ane aja.”, jawabku ketus.
            Dia tertunduk sejenak, lalu menghela nafas panjang. “Ana ngerti perasaan antum kok. Ana juga minta maaf atas insiden waktu itu. Seharusnya, kita mencari jalan keluar sama-sama, bukan malah mengucilkan antum.”
            “Sebagai permintaan maaf ana, nih, ana kasih sesuatu.”, lanjutnya. Sebuah kepingan CD berwarna putih tanpa tulisan disodorkannya padaku.
            “Apa isinya Id?”
            “Liat aja di rumah, nanti juga tahu”, jawabnya misterius. Akupun menerimanya. Lalu, kamipun berpisah, karena ruang kelas kami berbeda.
****
            Pukul 14.00, bel pulang berdering. Sebagian besar siswa langsung berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Sedangkan sisanya tetap berada di sekolah karena mengambil mata pelajaran tambahan. Dan aku, kebetulan sedang tidak ada mata pelajaran tambahan. Sehingga, aku langsung pulang ke rumah.
            Said Abdul Jabbar. Nama yang tak asing di telingaku, bahkan sangat akrab. Dia merupakan teman seperjuanganku di Rohis SMP dahulu. Dan, ia merupakan rekan satu divisi. Saat itu, kami sama-sama menjadi bagian dari divisi dakwah. Ia ketuanya, dan aku asisten terpercayanya. Pada masa awal, aku menjadi salah satu ‘pentolan’ Rohis. Cukup disegani.
            Pada masa itu, terutama usia-usia kami –remaja-, sedang marak-maraknya Virus Merah Jambu. Ketika itu, tugas kami (yang saat itu sudah kelas 8) adalah memberi tausiyah dan peringatan serta rambu-rambu mengenai virus ini, kepada para junior kami. Kami telisik segala komunikasi yang menjurus ke arah virus ini. Tak hanya kepada junior, kamipun turut menyebarkan tausiyah lewat buletin dan blog kami, sehingga makin banyak yang sadar akan bahayanya virus ini.  
            Sayang sekali, saat itulah titik balik dalam diriku terjadi. Aku terhinggapi virus mengerikan itu. Ya, aku terhinggapi. Aku menyukai akhwat junior bernama Faizah. Tania Faizah nama lengkapnya. Dari awalnya ‘hanya’ mengirimkan nasihat-nasihat, hingga akhirnya terjebak dalam rayuan gombal ikhwan dan akhwat.
            Hubunganku dengannya tercium oleh sang ketua Rohis, Muhammad Ghufron. Ghufron pun mendiskusikan masalah ini –tanpa sepengetahuanku- kepada anggota lainnya. Saat itulah, Said mengusulkan, agar aku dilepaskan dari amanah menjadi asistennya.
            Kabar ini pada awalnya tak kuketahui, hingga akhirnya, aku sadar. Aku tak pernah diberi tugas. Hingga akhirnya aku meminta penjelasan kepada Said.
“Id, kok ane ngga pernah dikasih tugas?”
“Akan ana kasih tugas kalau antum udah sembuh dari virus itu, Tin.”
“Tapi, ane kan ngga separah orang-orang di luar sana, yang sampai jalan bareng, berduaan, melakukan sentuhan, ciuman, dsb… Ane kan cuma SMS-an!”
“Itulah masalahnya, Tin. SMS-an dan telpon-telponan merupakan pintu awal menuju kerusakan itu. Memang canggih sekali virus ini, bahkan sampai memengaruhi kamu yang bisa dibilang cukup alim. Sembuhkan dirimu dulu, Tin.”
Aku kesal saat itu. Akupun mengatakan padanya kalau aku mengundurkan diri dari Rohis dan tidak akan kembali. Said hanya menanggapi dengan wajah tertunduk .
“Semoga antum tidak sungguh-sungguh dengan ucapan antum.”, ucapnya. Nadanya begitu sedih dan getir.
Akhirnya, aku malu sendiri, hingga liqo’ kutinggalkan begitu saja, dan memutus kontak dengan mereka. Terus begitu hingga lulus,  sampai aku bertemu dengan Said tadi.
****
            30 menit perjalanan pulang kuhabiskan untuk mengingat masa laluku tadi. Alasan mengapa aku tak mau lagi berhubungan dengan yang namanya ‘Rohis’. Alasan mengapa wajahku masam ketika bertemu Said. Kebencianku membara karena tak ada yang mengabariku akan hal itu.
            Namun, apa boleh buat, itu hanyalah masa lalu. Sekarang saatnya melangkah memulai lembaran baru.
            Kurebahkan tubuhku sejenak di kasur. Lelah sekali rasanya hari ini. Belum hilang rasa pegal dan penatku, tiba-tiba aku teringat ayat itu. Ayat yang –ternyata- dibacakan Said tadi pagi. Aku segera bangun dan mencari Al-Qur’an terjemahan. Aku membolak-balik halaman demi halaman untuk mencari satu ayat. Al-Hadiid ayat 16.
            “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)…”,batinku perlahan. Ini. Inilah ayat yang membuat hatiku bergetar sedemikian hebat. Tak salah lagi. Akupun memutar memori ke arah masa lalu. Kudapati begitu sering diriku tidak menaati perintah-Nya. Dan kudapati diriku sangat jarang khusyuk ketika sholat. Bahkan lebih sering pikiranku mengawang pada sesosok Faizah yang telah mendominasi hatiku. Astaghfirullah… Aku terduduk lemas.
            “…dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras…”, kulanjutkan ayat itu. Masya Allah, aku bertanya pada diriku sendiri, apakah hatiku sudah begitu keras? Hingga nasihat Said tak menghalangi sikap burukku? Sehingga ajakan Taufik untuk masuk Rohis tak meluluhkan hatiku? Astaghfirullah… Mataku mulai berkaca-kaca.
****
            Alunan adzan ashar menggema. Mengetuk pintu-pintu hati manusia. Mengajak mereka melepas rindu untuk bertemu Sang Pencipta, Allah SWT. Mengajak mereka mengadu, bermunajat, merendahkan diri di hadapan-Nya. Ya, alunan itu telah merasuki hatiku. Menghangatkan kebekuan yang telah menghinggapi hatiku. Akupun bangkit dan mendirikan sholat Ashar.
            Di dalam lantunan doaku, aku terbayang wajah Said, yang begitu sabar menghadapi tingkah lakuku tadi pagi. “Ya Allah, Ya Robbi, kembalikan ikatan ukhuwwah kami, sehingga kami dapat bergandengan tangan menuju ridho dan surga-Mu.”
            “Ah, harusnya aku yang meminta maaf padanya. Tak seharusnya aku melawan nasihatnya dahulu. Nafsu telah membutakan mata hatiku saat itu. Ah, ini juga bukan salah cinta. Juga bukan salah si nafsu. Ini salahku, ini kealpaanku. Karena imanku begitu lemah, begitu rapuh, sehingga mudah dijerumuskan oleh nafsu.”, batinku. “Aku yang harus minta maaf padanya.”
            Hah, ngomong-ngomong soal minta maaf, bukankah tadi pagi Said memberikanku sekeping CD sebagai permintaan maaf? Aku melipat sajadah dan menonton CD itu di computer kamar.
            “Ini…”, itulah ucapanku pertama kali ketika melihat video itu. Mataku mulai berkaca-kaca. “Ya Allah…”, ucapku sambil terisak. Air matakupun menetes.
Bersambung…