Selamat datang di Blog Karya Islami

Yaa Allah, Guide me all the way to Your Jannah...

Selasa, 09 Oktober 2012

Kejujuran Yang Terasing



           Tak dapat dipungkiri, pendidikan adalah elemen yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas sebuah negara. Oleh karenanya, berbagai negara berlomba-lomba merumuskan sebuah sistem pendidikan yang paling efektif untuk negaranya.
            Indonesia, dengan sistem pendidikannya, terus berupaya untuk menghasilkan sarjana-sarjana yang unggul di bidangnya masing-masing. Dengan begitu, Indonesia dapat bersaing di kancah internasional. Namun, dewasa ini, sebuah pertanyaan muncul: “Dalam setahun, Indonesia menghasilkan beratus ribu sarjana. Mengapa negara ini sangat lambat perkembangannya, padahal SDM (sarjana) yang tersedia begitu berlimpah?”
            Apakah sebab fenomena tersebut? Jika direnungkan, sebabnya adalah kurang kompetennya sarjana yang dihasilkan Indonesia. Apa sebab kurang kompetennya sarjana Indonesia? Jawabannya sederhana: menyontek.
            Menyontek kini telah menjamur di sekolah-sekolah Indonesia. Perbuatan terlarang yang sejatinya menuntun pada tindak korupsi tersebut, seolah menjadi legal karena dibiarkan saja oleh guru. Para siswa, sejak SD –atau bahkan TK- telah dibentuk pola pikir bahwa “Yang dapat nilai 90 lebih pintar dan akan lebih sukses dibandingkan yang dapat nilai 60”. Pendeknya, nilai adalah segalanya. Yang nilainya bagus, ia yang akan sukses. Pola pikir inilah yang nantinya akan membuat siswa terus mengejar nilai tanpa memahami isi materi itu sendiri. Jika pesimis nilai KKM dapat tercapai, akhirnya menghalalkan segala cara. Dan, menyontek hanya salah satu dari cara-cara haram tersebut.
            Nilai adalah segalanya. Motto inilah yang akhirnya hanya menghasilkan sarjana yang tidak kompeten, pemimpin yang gemar korupsi, wakil rakyat yang suka menipu, atau –dalam skala kecil- orang yang tidak jujur.
Kini, kejujuran hanya kata belaka. Terasing di bawah bayang-bayang kata “kelulusan”. Tak ada bukan, ketika akan masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sebuah tes kejujuran? Yang dilihat, sekali lagi, “nilai” tes masuknya, atau “lulus atau tidaknya” siswa tersebut. Tanpa memandang cara yang dipakai siswa dalam meraih nilainya.
Meski demikian, saya yakin, lumayan banyak orang-orang di luar sana yang jujur. Meski tersembunyi gemerlap semu orang-orang curang, ia tetap tegar, bersahaja, dan menjadi pelita bagi orang lain.
            Pada akhirnya, fakta menunjukkan, kejujuran hanya pahit di awal. Sedangkan kecurangan, kebohongan, hanya manis di awal. Jika dikaitkan ke ajaran agama, Rasulullah adalah sosok ideal dari orang yang mengimplementasikan kejujuran dalam kesehariannya. Sukseskah ia? Sangat. Terasingkah ia? Ya, pada awalnya. Pada akhirnya, seluruh manusia menaruh hormat pada beliau.
Barangkali, kejujuran adalah hal yang sepele bagi sebagian orang, namun lihatlah, kejujuran adalah pondasi utama yang menopang manusia dalam mengarungi samudera kehidupannya. Oleh karena itu, mari, kita rawat kejujuran kita, demi eksistensi bangsa kita, dan demi kesuksesan kita serta orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar